MAHALNYA INTEGRITAS DIRI

 

MAHALNYA INTEGRITAS DIRI


“Bila kita sudah tidak memiliki harta benda yang bisa dibanggakan, tidak ada lagi rumah mewah, pun tidak memiliki bisnis besar, setidaknya kita masih punya satu harta yang tak ternilai ini:

NAMA BAIK.

“Allah akan tetap menolong kita dalam keadaan bagaimanapun, sayangnya sering kali justru kita sendiri yang merusak reputasi (nama baik) diri sendiri.”

 

    Seperti kita mudah berjanji, sehingga orang lain menaruh harapan besar kepada kita. Namun nyatanya, yang terjadi justru sebaliknya,kita tidak bisa memberikan apa yang telah kita janjikan sendiri. Kita tidak mampu mengukur kemampuan untuk membahagiakan orang lain. Jelas hal itu sangat berbahaya. Sebab di dunia ini, tidak hanya hubungan kita dengan Allah saja yang menjadi tolak ukur kesuksesan, tetapi juga bagaimana car akita bersikap kepada sesama.

Dalam berbisnis misalnya, yakinilah bahwa berbisnis bukan semata urusan duit dan laba. Berbisnis sejatinya tentang bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain?

    Seperti itu juga saat kita sedang beraktivitas apa pun sekolah, kuliah, dan lainnya. Maka untuk mengundang pertolongan Allah agar setiap ikhtiar kita dipermudah oleh-Nya, pertama bersihkan perilaku kita. Sebab siapa bersih perilakunya, akan mulia hidupnya. Terutama menjauhi ciri-ciri sifat orang munafik, yakni bila berkata sering berdusta, jika berjanji justru mengingkari, dan apabila dipercaya malah berkhianat. Dengan begitu, teruslah berjuang dengan gigih untuk melakukan tiga hal ini:

- Bila berkata pasti benar adanya;

- Bila berjanji akan ditepati;

- Bila dipercaya akan menjaga kepercayaan.

    Dari ketiganya, sebenarnya kuncinya hanya satu: tanggung jawab. Bertanggungjawab apa yang kita lisankan (kita janjikan) dan bertanggungjawab atas semua perilaku kita. Sebab itulah, Rasulullah SAW sangat menyarankan agar kita senantiasa menjaga wudhu. Itu artinya kita harus pandai menjaga diri. Kewajiban kita tercermin dari pakaian yang kita kenakan, sedangkan harga diri kita tergantung pada apa yang kita lisankan.

    Sebab itu yang kedua, jangan malu mengakui kesalahan dan cobalah untuk memperbaikinya. Begitu kita menyadari adanya kesalahan, segeralah memberikan konfirmasi, tanpa harus menunggu orang lain dulu yang menegur. Akuilah dengan tulus kesalahan yang kita buat, meminta maaf, dan sepenuhnya kita serahkan kepada pihak-pihak terkait atas permintaan maaf kit aitu. Sebab dengan meminta maaf ini, kita sedang menjaga tali silaturahmi agar senantiasa tetap terjalin. Sepenuhnya memahami bahwa jalinan pertemanan, persahabatan, kerja sama bisnis, atau pekerjaan itu jauh lebih penting dari sekedar keegoisan kita.

    Tidak hanya diri kita pribadi yang nyaman, tetapi orang lain juga akan nyaman berinteraksi dengan kita. Bukan lagi gengsi yang kita junjung tinggi-tinggi. Sebab semakin tinggi kita menjunjung keegoisan diri dan rasa gengsi, sungguh orang lain akan menjauhi kita. Akan ada rasa sungkan untuk bersahabat dengan kita. Maka yakinilah bahwa meminta maaf itu tidak akan merendahkan harga diri kita. Justru akan menjaga integritas diri kita.

    Sebaliknya, jika kita sibuk menutupi kesalahan,justru kita akan kelelahan sendiri. Sering kali satu kebohongan akan melahirkan kebohongan selanjutnya. Tentu tidak akan nyaman sekali hidup penuh dengan topeng kepalsuan. Semakin lama kita berkelit dan bersembunyi, pada akhirnya pun akan terbongkar. Kenapa kita tidak menyerahkan diri saja dengan cara yang santun dan sopan?

Ketiga, tetaplah menjadi pribadi yang humanis. Yakni tetap mendambakan dan terus menerus memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik, nyaman, berdasarkan atas asas kemanusiaan, dan sepenuhnya mengabdi pada kepentingan bersama. Kita hidup di dunia ini saling mengusahakan keselamatan bagi sesama.

 

“Jika kita tidak bisa membuat orang lain tersenyum, jangan membuat mereka cemberut. Bila kita tidak bisa membuat orang lain Bahagia, jangan membuat mereka bersedih. Jika kita tidak bisa membuat mereka tertawa, jangan membuat mereka menangis. Jika kita tidak mampu bermanfaat bagi mereka, jangan merugikan mereka.”

Maka bersikap kepada orang lain, patut kita berpegang pada prinsip-prinsip berikut ini:

ü  - Aku aman bagimu

ü  - Aku menyenangkan bagimu

ü  - Aku bermanfaat bagimu

Dengan begitu, untuk menjaga integritas diri, bukanlah menggunakan prinsip kompetisi, namun berpedoman pada keselarasan dan hidup dengan harmoni. Aman, menyenangkan, dan bermanfaat.

Komentar